2.330 Sulam Tumpar Dan 3.300 Mandau Pecahkan Rekor Dunia MURI

INDCYBER.COM, SENDAWAR – Upacara dalam rangka peringatan Dahau HUT ke 19 Kutai Barat (Kubar), dilanjutkan dengan pencatatan dalam sejarah Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan 2.330 peserta Sulam Tumpar terbanyak dan 3.300 penyandang Mandau terbanyak, yang di gelar di Alun – Alun Itho komplek perkantoran Pemkab Kubar pada, Senin (5/11/2018).

Kegiatan ini melibatkan peserta dari enam etnis suku Dayak di Kubar, antara lain Dayak Benuaq, Tunjung, Bahau, Kenyah, Aoheng dan Melayu.

Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Kaltim (Wagub) H. Hadi Mulyadi sekaligus sebagai Inspektur upacara HUT ke 19 Kubar, Danrem 091 Brigjen Irham Waroihan, Bupati Murung Raya Kalimantan Tengah Perdie MA, Putra Mahkota Raja Tenggarong Aji Adipati Anum Adidiningrat, Wabup Mahulu Y, Juan Jenau.

Dalam sambutannya Hadi Mulyadi menyampaikan, dalam peringatan HUT ke 19 Kabupaten Kutai Barat, pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengucapkan selamat berulang tahun, semoga Kubar semakin maju dan semakin jaya, masyarakatnya hidup makmur dan sejahtera di Tanaa Purai Ngeriman.

Berbagai sektor pembangunan harus terus ditingkatkan, diutamakan pembangunan yang lebih berpihak ke masyarakat dengan membangun infra struktur, seperti jalan dan jembatan hingga ke seluruh pelosok daerah, serta membangun ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan tenaga sumber daya manusia serta melestarikan lingkungan hidup.

Selama ini Kubar terkenal dengan pertambangan Emas dan Batu Bara, oleh sebab itu masyarakat Kubar sebagian besar masih bergantung ke perusahaan pertambangan, masyarakat tidak boleh terus menerus bergantung kepada industri pertambangan, karena lama kelamaan tambang potensinya pasti akan habis.

“ Saya berpesan kepada pengusaha pertambangan, apabila tambang sudah habis jangan lupa mereklamasi lingkungan tambangnya,” kata Hadi Mulyadi.

Dikatakan Hadi Mulyadi, pertambangan boleh berlalu, namun pertumbuhan ekonomi jangan sampai menurun, lakukan terobosan di sektor pertanian, utamanya sektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan serta perikanan sangat potensial sekali di kubar ini.

Begitu juga dengan sektor pariwisata yang sangat potensial dengan Air terjun dan Anggrek Hitam yang banyak diminati para pelancong dari luar daerah maupun manca negara yang datang ke Kubar ini.

Sementara itu Bupati Kubar FX. Yapan menyampaikan bahwa dalam pencapaian budaya Sulam Tumpar dan Mandau terbanyak ini melibatkan enam etnis Suku Dayak di Kubar ini, mulai dari Etnis Suku Dayak Benuaq, Tunjung, Kenyah, Bahau, Melayu dan Aoheng.

Di samping itu diharapkan kepada semua masyarakat yang tergabung dalam enam etnis ini untuk saling berenovasi menjaga kedamaian dan kerukunan, saling menghargai dan menghormati antar sesama serta bahu membahu membangun Kubar yang lebih baik.

Tari kolosal dari enam etnis yang ada di kubar
Tari kolosal dari enam etnis yang ada di kubar

Selain penghargaan Sulam Tumpar dan Mandau terbanyak, dimeriahkan juga dengan tari kolosal yang diikuti ratusan pelajar dan juga masyarakat serta Kirap Budaya yang melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah OPD dan juga masyarakat umum.

“ Saya ingin mewujudkan Kubar tercinta ini seperti Trisakti, berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang budaya,” kata Yapan.

Dikatakan Yapan, terima kasih kepada para pendukung HUT Dahau ini terutama Dekranasda, melalui Fashion Show, Launching Pakaian Batik, serta dari Doyo dan semuanya yang telah mendukung dan mensukseskan kegiatan ini.

“ Melalui para sponsor inilah kita dikenal masyarakat luas baik di luar daerah maupun manca negara,” ujar Yapan.

Lanjutnya, untuk mencapai itu semua kita harus termotivasi dan berenovasi sesuai dengan motto kabupaten Kutai Barat “ Hari Esok Lebih Baik Dari Pada Hari Ini ”, apapun kekurangan kita harus diperbaiki melalui proses maupun mekanismenya.

Penyulam tumpar yang mendapatkan rekor dunia MURI
Penyulam tumpar yang mendapatkan rekor dunia MURI

Untuk melestarikan ini semua diharapkan peran serta orang tua, guru disekolah, tokoh masyarakat, tokoh agama guna membimbing generasi penerus ini mendapatkan pelatihan sedini mungkin, agar kelak dikemudian hari ada yang meneruskan baik Menenun maupun Menyulam. (arf/adv)

 157 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *