LCT KM. Adiya Tama Terbalik di Mahakam Ulu

Indcyber.com, SENDAWAR – Kapal Motor (KM) Adiya Tama yang mengalami Kecalakaan Air (Laka Air) terbalik dikawasan kampung Mamahak Basar, kecamatan Long Bagun, Mahakam Ulu (Mahulu) pada Jumat (8/2/2019) lalu.

Hingga berita ini diturunkan KM. Adiya Tama yang terbalik didaerah bebatuan atau karangan dan bermuatan 4 unit mobil jenis truck mitsubisi roda sepuluh, 320 drum aspal, 2 botol tabung gas oksigen dan 1 unit kompresor, belum juga di evakuasi.

Kapolsek Long Bagun IPTU Purwanto melelui pesan whatshapnya pada Kamis (24/2/2019) kepada Indonesia Cyber menyampaikan kronologis kejadian, bahwa pada 08 Februari 2019, sekira pukul 10.15 wita telah terjadi laka air KM. Adiya Tama, milik H. Asri (56) warga Samarinda.

“ Pada saat LCT KM Adiya Tama melintas di Ulu Camp Mamahak Besar, tepatnya di teluk, arus sungai sangat deras sekali, kapal jadi miring,” kata Purwanto.

Dikatakan Purwanto, posisi LCT KM Adiya Tama yang mudik dari Samarinda menuju Long Bagun Mahulu, dengan muatan material untuk dibawa ke kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), pada saat LCT melawan arus, tiba – tiba kapal miring.

“ Kapten kapal sodara Suwardi melihat kapal miring mengurangi kecepatan, akibat gelombang deras yang menghantam badan kapal, akhirnya kapal miring kekiri dan kemasukan air, dan akhirnya kapal tidak bisa dikendalikan dan terbalik,” ujar Purwanto.

Lanjutnya, akhirnya seluruh muatan yang berada di dalam LCT. KM. Adiya Tama tidak bisa diselamatkan semuanya tenggelam, dan para ABK loncat kesungai guna menyelamatkan diri ke tepian dan akhirnya ditolong para warga yang melintas menggunakan ces dan speed boat.
Kerugian yang diakibatkan insident tersebut di perkirakan milliaran rupiah, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut.

LCT KM. Adiya Tama tersebut beranggotakan 4 orang ABK, kapten kapal Suwardi (35), Manto (23), Udin (45), dan Elisa (21), semuanya dalam keadaan selamat.

Warga mengharapkan kepada pihak terkait, dan pemilik kapal agar segera mengevakuasi kapal LCT tersebut, sebab limbah dari solar, aspal dan oli nya akan mencemari sungai kehilir dari pada kapal tersebut, dan airnya dikonsumsi masyarakat sampai ke Kubar. (arf)

 141 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *