Categories: BERANDABulungan

Dibalik Piala Bertabur Gelar: Ironi Penghargaan Pembangunan Kaltara dan Dugaan Pengabaian Hak Konstitusional Warga Krayan

TANJUNG SELOR, indcyber.com— Sebuah ironi besar tersaji dalam panggung pemerintahan Kalimantan Utara. Di saat Gubernur Kaltara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., tersenyum memegang piala “Pemimpin Daerah Terbaik dalam Pembangunan Infrastruktur Perbatasan” pada ajang IPSEA 2026 di Bali, Jumat (17/7/2026), masyarakat Krayan justru terus memikul beban penderitaan akibat keterisolasian yang tak kunjung usai.

Pengakuan di atas kertas dari lembaga swasta tersebut berdiri bertolak belakang dengan realita brutal di lapangan. Selebrasi seremonial di hotel berbintang Bali terkesan menutup mata dari jalanan Krayan yang tak ubahnya kubangan lumpur pekat.

Fakta Lapangan: Tandu Kemanusiaan di Tengah Klaim Keberhasilan

Kondisi jalan utama yang menghubungkan wilayah-wilayah di Kecamatan Krayan dilaporkan rusak parah. Akses transportasi darat lumpuh total setiap kali hujan turun, memutus rantai pasokan logistik dan mobilitas warga.

Dampak keterisolasi ini bukan sekadar lambatnya roda ekonomi, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa:

 * Akses Kesehatan yang Terancam: Warga terpaksa menandu pasien sakit melintasi belantara dan lumpur puluhan kilometer demi mencapai fasilitas medis terdekat.

 * Hambatan Akses Pendidikan: Anak-anak sekolah harus bertaruh keselamatan melintasi jalur ekstrem yang membahayakan setiap hari.

 * Kelumpuhan Ekonomi: Tingginya biaya angkut akibat hancurnya jalan membuat harga kebutuhan pokok meroket, mencekik perekonomian masyarakat perbatasan.

Mengupas Potensi Pelanggaran Hukum dan Pengabaian Mandat Negara

Pencitraan pembangunan yang kontras dengan realita di Krayan bukan lagi sekadar isu ketidakpuasan publik, melainkan berpotensi memuat indikasi pengabaian kewajiban konstitusional dan pembiaran hukum (negligence) oleh pimpinan daerah.

1. Pelanggaran Hak Konstitusional Warga Negara

Pembiaran infrastruktur dasar di wilayah perbatasan melanggar amanat UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) yang menegaskan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Ketiadaan jalan layak yang menyebabkan warga terisolasi dan harus ditandu saat sakit secara langsung merenggut hak dasar tersebut.

2. Pengabaian Kewajiban UU No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara

Sebagai daerah perbatasan negara, Krayan merupakan kawasan strategis nasional. Dalam Pasal 10 UU No. 43/2008, Pemerintah Daerah wajib membangun infrastruktur dan sarana prasarana kawasan perbatasan guna menjaga kedaulatan serta pemenuhan kesejahteraan warga terdepan. Kegagalan menghadirkan jalan layak menunjukkan tidak terlaksananya prioritas pembangunan perbatasan secara substansial.

3. Ketidakpatuhan Terhadap UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Berdasarkan UU No. 23/2014, pekerjaan umum dan penataan ruang merupakan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar. Pembiaran akses jalan utama dalam kondisi rusak ekstrem mengindikasikan kegagalan Pemprov Kaltara dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) kepada rakyatnya sendiri.

4. Indikasi Maladministrasi dan Pembiaran (Negligence)

Sikap pemerintah daerah yang membiarkan kerusakan infrastruktur vital berlangsung bertahun-tahun hingga mengancam keselamatan jiwa dapat dikategorikan sebagai praktek maladministrasi berupa pengabaian kewajiban hukum. Pihak Ombudsman RI berwenang mengusut dugaan kelalaian sistematis yang merugikan publik secara meluas ini.

Pembangunan Sejati Adalah Aspal Mulus, Bukan Piala

Penghargaan bertajuk piala dan sertifikat seremonial tidak memiliki nilai di mata warga Krayan selama roda kendaraan belum bisa melintas tanpa terkepung lumpur. Warga perbatasan membutuhkan pemerataan pembangunan nyata, bukan deretan klaim prestasi di atas kertas yang berseberangan dengan penderitaan saban hari.

Akuntabilitas anggaran pembangunan infrastruktur perbatasan Kalimantan Utara kini menuntut pembuktian nyata dan pengawasan ketat dari aparat penegak hukum maupun lembaga pengawas negara.(Suriansyah) sc : halokaktara

indcyber

Recent Posts

SKANDAL LINGKUNGAN PT INSANI BARA PERKASA: BPK BONGKAR DERETAN PELANGGARAN HUKUM TAMBANG BATU BARA DI PALARAN

SAMARINDA , indcyber.com— Aktivitas korporasi raksasa pertambangan batu bara PT Insani Bara Perkasa (PT IBP)…

4 hours ago

“SAIDINA ASWAT” Kades Sidomulyo bersama warganya memberi donasi kepada korban kebakaran di Tenggarong

WWW.INDCYBER.COM - TENGGARONG – Kepala Desa Sidomulyo, Saidina Aswad, menunjukkan kepedulian terhadap warga yang mengalami…

1 day ago

PROBEBAYA SAMARINDA 2025: SKANDAL Rp166,8 MILYAR, KELICIKAN POKMAS, DAN DUGAAN PELANGGARAN HUKUM DI LAPORAN BPK

SAMARINDA, indcyber.com — Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) Pemerintah Kota Samarinda Tahun Anggaran 2025…

4 days ago

Korem 091/ASN Resmi Berganti Pimpinan, Kolonel Inf Rony Fitrianto Emban Jabatan Danrem

Samarinda , INDCYBER.COM – Tonggak kepemimpinan di lingkungan Komando Resor Militer (Korem) 091/Aji Surya Natakesuma…

5 days ago

Dugaan Penyimpangan Proyek APBD Rp 2,28 Miliar di Paser: Pengawasan Publik dan Transparansi Anggaran Dipertanyakan

TANAH GROGOT, indcyber.com— Sorotan tajam tertuju pada proyek pengadaan dan penataan interior milik Pemerintah Kabupaten…

2 weeks ago

PONTON BATU BARA RATAKAN PERMUKIMAN DI MAHAKAM: KELALAIAN FATAL ATAU KEJAHATAN PELAYARAN?

LOA JANAN , indcyber.com— Insiden kelam kembali mencoreng aktivitas pelayaran niaga batu bara di sepanjang…

2 weeks ago