Ambulan Tanpa Sopir, Layanan Darurat Samarinda Lumpuh di Garasi

Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Foto: Fathur)

Indcyber.com, SAMARINDA — Krisis diam-diam tengah menghantui layanan darurat kesehatan di Kota Samarinda. Di balik deretan ambulan yang tampak siap siaga di halaman Puskesmas, tersembunyi fakta mencemaskan: banyak kendaraan itu tidak bisa digunakan karena tidak memiliki sopir tetap.

Temuan itu diungkap Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, usai melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah fasilitas layanan kesehatan pada Jumat (25/07/2025). Ia menyebut kondisi ini sebagai “darurat dalam layanan darurat”.

“Ini bukan hanya soal kendaraan yang mangkrak, tapi tentang sistem yang gagal menjamin respons cepat saat nyawa dipertaruhkan,” tegas Novan.

Simbol Ketimpangan Akses Kesehatan

Fenomena ambulan tanpa sopir menjadi potret ketimpangan nyata dalam sistem pelayanan publik. Masyarakat di kawasan pinggiran atau padat penduduk sangat bergantung pada armada ini untuk mendapat pertolongan cepat saat kondisi kritis, namun sering kali terabaikan.

“Bayangkan jika seorang ibu melahirkan atau seorang anak demam tinggi di tengah malam dan ambulan tak bisa dioperasikan hanya karena tak ada sopir. Ini jelas kelalaian sistemik,” ujarnya.

Kritik Keras ke Pemkot: Jangan Hanya Bangga Beli Unit Baru

Novan menyayangkan kecenderungan Pemkot yang lebih menonjolkan keberadaan unit kendaraan baru tanpa memastikan kelengkapan operasionalnya. Ia menilai, pengadaan tanpa perencanaan SDM justru menjadi pemborosan anggaran.

“Ambulan bukan sekadar pajangan atau penggugur laporan belanja. Ini soal kesiapan menyelamatkan warga. Harus lengkap, dari kendaraan sampai operatornya,” tegasnya.

Dorong Evaluasi Total dan Gerak Cepat

Komisi IV DPRD mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap distribusi dan operasionalisasi ambulan di semua Puskesmas. Pemerintah harus segera menyiapkan anggaran untuk rekrutmen sopir khusus dan pelatihan petugas darurat.

Ia juga mengusulkan sistem rotasi darurat untuk memastikan setiap Puskesmas minimal memiliki satu sopir yang standby dalam sistem piket bergilir.

Kolaborasi Masyarakat dan Pemerintah Diperlukan

Novan menambahkan bahwa persoalan ini tidak bisa ditangani sendiri oleh Dinas Kesehatan. Harus ada kerja sama lintas sektor, termasuk melibatkan BPBD, rumah sakit, hingga peran aktif masyarakat dalam mendorong pengawasan pelayanan publik.

“Kita tidak bisa menunggu jatuh korban baru bertindak. Nyawa warga tidak boleh jadi taruhan dari kelalaian birokrasi,” pungkasnya.

Reporter: Fathur | Editor: Awang | ADV

Awang

Recent Posts

APM Kaltim Ajak Massa Jaga Aksi Tetap Damai dan Tertib pada 21 April 2026

Sejumlah perwakilan Aliansi Perjuangan Masyarakat (APM) Kalimantan Timur berfoto bersama di depan Sekretariat APM Kaltim…

2 hours ago

Berujung Penganiayaan, Aksi Menolong Pria Mabuk di Mahulu Justru Picu Amarah

Dua pria terduga pelaku pengeroyokan diamankan Unit Reskrim Polsek Sungai Kunjang usai insiden kekerasan di…

21 hours ago

Motor Diparkir Tanpa Kunci Pengaman, Dua Pencuri Berhasil Dibekuk Polisi

Dua pelaku pencurian sepeda motor berinisial MJ dan MH berhasil diamankan jajaran Polsek Samarinda Ulu.…

2 days ago

Mantan Kadis Pertambangan Kukar Berinisial AS Resmi Ditahan Terkait Kasus Lahan Transmigrasi

SAMARINDA, indcyber.com– Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Timur resmi menetapkan status penahanan terhadap mantan Kepala Dinas…

2 days ago

KECEWA BERAT! TIM VERIFIKASI PEMKAB KUTAI BARAT DINILAI GAGAL, WARGA DESAK HENTIKAN RKAB PT TCM

KUTAI BARAT, indcyber.com – Kekecewaan mendalam disampaikan masyarakat bersama Ormas Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR)…

3 days ago

JEJAK HITAM PROYEK JALAN Rp27,3 MILIAR DI KALTIM DIDUGA “DIATUR”: PEKERJAAN SUDAH JALAN SEBELUM LELANG

Balikpapan, indcyber.com – Diduga melibatkan oknum" pejabat dilingkungan dinas pupr prov kaltim, praktik korupsi kembali…

3 days ago