H. Samri Shaputra berfoto bersama Ketua RT 04 Masitah Abu Daud dan para anggota Majelis Habis Muslimah Wahidah (Muhidah) usai pelaksanaan Reses Masa Persidangan III di Kelurahan Mangkupalas, Samarinda Seberang. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan yang dihadiri puluhan ibu-ibu majelis tersebut. (Foto: Fathur)
Indcyber.com, SAMARINDA — Sabtu sore (15/11/2025), suasana hangat menyelimuti halaman rumah warga di Jalan Teluk Bayur RT 04, Kelurahan Mangkupalas, Samarinda Seberang. Duduk dibangku plastik di bawah terpal sederhana, warga mengikuti Reses Masa Persidangan III yang digelar H. Samri Shaputra, Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat Dapil II.
Ketua RT 04 Masitah Abu Daud dan ibu-ibu Majelis Habis Muslimah Wahidah (Muhidah) turut hadir. Obrolan ringan yang mengalir membuat kegiatan terasa intim, namun apa yang dibahas justru menyentuh isu-isu penting yang jarang muncul dalam ruang formal.
DPRD Menahan Gejolak, Samarinda Tetap Stabil
Samri membuka pertemuan dengan menyinggung alasan mengapa Samarinda tetap tenang meski kota-kota lain di Indonesia diguncang protes soal kenaikan pajak daerah. Ia menegaskan, DPRD memilih memperkuat BUMD ketimbang menekan masyarakat.
“Kita tidak ingin membebani warga. Banyak kota memilih menaikkan pajak, tapi efeknya langsung terasa di rumah-rumah,” ujarnya.
Kehadiran PDAM dan sektor parkir sebagai penopang PAD menjadi fokus DPRD, terutama di tengah tekanan fiskal beberapa tahun terakhir.
Di Balik Angka dan Anggaran, Samarinda Sedang Berhemat
Samri kemudian memaparkan kondisi anggaran yang kian ketat. Dari proyeksi Rp 400 miliar dana transfer pusat, realisasi hanya Rp 248,9 miliar. Sementara Dana Bagi Hasil turun hingga 49 persen, ditambah belum cairnya DBH kurang bayar sebesar Rp 266,8 miliar.
“Kita harus menetapkan prioritas dan mengencangkan ikat pinggang. Tapi program seperti Pro Bebaya tetap kita jaga supaya bisa berjalan,” tuturnya.
Penjelasan itu membuat warga menyadari bahwa banyak persoalan di tingkat RT sejatinya berakar dari dinamika fiskal yang lebih luas.
Parkir: Potensi Besar yang Masih Bocor
Di tengah obrolan yang santai, Samri menyinggung potensi parkir yang belum tergarap maksimal. Ia membandingkan pendapatan jukir dengan setoran resmi yang masuk ke kas daerah—perbandingan yang menunjukkan adanya celah besar.
“Kalau sistem e-parking diterapkan penuh, kebocoran bisa ditutup. Pendapatan daerah bisa meningkat,” jelasnya.
Warga tampak menyimak, beberapa saling berbisik, seolah memahami bahwa isu retribusi parkir bukan lagi hal kecil, melainkan bagian dari puzzle besar pengelolaan kota.
Usulan Jam Malam Menguat Setelah Keluhan Para Ibu
Saat sesi dialog dibuka, Indri warga RT 41 mengemukakan gagasan tentang Peraturan Daerah terkait Jam Malam Remaja. Ia mengaku sering mendapati anak-anak muda berkeliaran hingga dini hari, termasuk anaknya sendiri.
“Saya temukan anak saya tidak ada di kamar. Jam dua pagi masih di luar. Situasi seperti ini yang membuat saya mendorong adanya aturan jelas,” ujarnya.
Keluhan Indri tidak berdiri sendiri. Seorang ibu lainnya, sambil menahan suara, mengungkapkan hal serupa. Ia resah karena anaknya mulai sulit dikontrol sejak sering ikut nongkrong di malam hari.
“Kadang saya takut, Pak. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan di luar,” ucapnya pelan.
Samri menyimak serius. Ia menyebut bahwa aspirasi para ibu ini menjadi bahan pemikiran baru, menguatkan usulan Indri agar dikaji sebagai potensi Perda.
“Kalau aspirasi seperti ini muncul dari banyak ibu, ini artinya kebutuhan sosial. Nanti kita bahas lebih dalam di Komisi I,” tambahnya.
Keamanan Parkir Juga Jadi Sorotan
Irja, mahasiswa yang tinggal di RT 04, mengungkapkan keresahan lain: keamanan parkir. Ia pernah kehilangan helm dan mendapati motornya diutak-atik. Ia berharap pemerintah bisa memperketat pengawasan titik-titik rawan.
“Kami butuh rasa aman ketika memarkir kendaraan,” katanya.
Semua masukan itu dicatat Samri untuk diteruskan kepada OPD terkait.

Akhir Pertemuan: Tawa, Seragam Baru, dan Kuis Hangat
Menjelang penutupan, Samri menyerahkan dukungan berupa seragam untuk ibu-ibu Majelis Muhidah gestur santai yang disambut hangat. Senyum para anggota majelis tampak mengembang.
Suasana semakin cair ketika Samri membawakan kuis ringan. Candaannya membuat warga tertawa lepas, mengubah dialog serius menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan.
“Alhamdulillah ibu-ibu tadi menyimak semua… apalagi ada bonus,” katanya disambut tawa meriah.
Reses sore itu berakhir dengan suasana penuh keakraban. Dari persoalan parkir hingga keresahan orang tua terhadap anak mereka, pertemuan ini menunjukkan betapa pentingnya dialog langsung antara warga dan wakilnya bahkan ketika tekanan fiskal tengah membayangi kota.
Reporter: Fathur| Editor: Awang
![]()

