SAMARINDA, indcyber.com — Rapat Senat Universitas Mulawarman (Unmul) pada Selasa (8/9) resmi menetapkan kembali Prof. Dr. Ir. Abdunur, M.Si., IPU. sebagai Rektor periode 2026–2031. Keterpilihan kembali petahana ini mengakhiri dinamika internal serta penundaan administratif oleh Kemdiktisaintek. Namun, masa jabatan kedua ini membawa tantangan kepemimpinan yang lebih substansial: transformasi finansial berbasis inovasi di tengah status Unmul sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Pakar Ekonomi Unmul, Prof. Dr. Aji Sofyan Efendi, M.Si. (ASE), menilai kepemimpinan periode kedua harus menandai pergeseran fokus. Menurutnya, mempertahankan predikat Akreditasi Unggul skala nasional maupun internasional adalah standar baku akademik yang memang wajib dijaga, namun tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan kemandirian institusi.
“Menjaga standar adalah keharusan, tetapi menghadirkan kejutan besar adalah seni kepemimpinan. Unmul butuh langkah berani yang menaikkan indikator kinerja ekosistem kampus secara signifikan,” tegas Prof. Aji Sofyan.
Wacana ‘Hotel Mulawarman’ dan Peluang Bisnis Kota Penyangga IKN
Sebagai gagasan konkret, Prof. Aji Sofyan mendorong optimalisasi aset fisik Unmul melalui optimalisasi kawasan kampus lama di Jalan Irian, Samarinda, menjadi unit usaha komersial berwujud Hotel Mulawarman. Model pengelolaan usaha PTN ini mengacu pada keberhasilan perguruan tinggi lain, seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengoperasikan Hotel Naraya berkelas bintang empat melalui Badan Pengelola Usaha (BPU) berkolaborasi dengan pihak profesional.
Pengembangan aset komersial dinilai memiliki pijakan rasional yang kuat:
- Sumber Pendapatan Mandiri (Revenue Generating): Pendapatan non-UKT yang dihasilkan secara mandiri dapat dialokasikan langsung untuk meningkatkan remunerasi dosen serta tenaga kependidikan.
- Serapan Tenaga Kerja dan Ekosistem Bisnis: Pemanfaatan lahan strategis di pusat kota Samarinda mampu membuka lapangan kerja baru dan memperkuat posisi bisnis kampus.
- Tingginya Permintaan Akomodasi: Beroperasinya Ibu Kota Nusantara (IKN) menempatkan Samarinda sebagai kota penyangga utama, menciptakan gap kebutuhan kamar hotel yang masih sangat tinggi.
Secara pemetaan pasar, Unmul dinilai memiliki ekosistem captive market dan basis konsumen internal yang solid, sehingga tidak perlu gentar bersaing dengan jaringan hotel swasta yang sudah ada di Samarinda.
Publik dan civitas akademika kini menantikan langkah strategis Rektor terpilih untuk memimpin transformasi Unmul menuju perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mandiri dan berdampak nyata secara ekonomi.(ASE/red)
![]()

