SAMARINDA, indcyber.com – Ruang rapat konsultasi hak angket di DPRD Kaltim, Senin (4/5/2026), mendadak panas setelah politisi senior Golkar Kaltim, Sarkowi, melontarkan pernyataan yang dinilai banyak pihak sebagai tindakan “bunuh diri” politik sekaligus upaya provokasi murahan.
Alih-alih menjaga marwah koalisi atau fokus pada esensi pengawasan, Sarkowi justru melempar bola panas yang menyerang Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. Pernyataan ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk memecah belah keharmonisan pimpinan daerah demi kepentingan kelompok tertentu.
Pernyataan Kontroversial yang Memicu Kegaduhan
Dalam rapat tersebut, Sarkowi secara eksplisit “memperingatkan” Fraksi Gerindra bahwa hak angket tidak hanya menyasar Gubernur Rudy Mas’ud, tetapi juga akan menyeret Seno Aji.
“Kalau angket itu memang ada. Maka angket itu untuk Gubernur dan Wakil Gubernur,” cetus Sarkowi dengan nada menantang.
Pernyataan ini sontak menuai kecaman. Sarkowi dituding sedang bermain api dengan mencoba menarik-narik nama Wakil Gubernur ke dalam pusaran konflik yang belum tentu memiliki dasar hukum kuat, sekadar untuk menakut-nakuti lawan politiknya.
Analisis Pelanggaran: Etika dan Potensi Delik Hukum
Tindakan Sarkowi ini tidak hanya dinilai etis secara politik, tetapi juga berpotensi menabrak koridor hukum dan tata tertib dewan:
1. Penyalahgunaan Wewenang (Abuse of Power): Menggunakan forum resmi konsultasi untuk melontarkan ancaman terselubung terhadap pejabat negara tanpa dasar bukti yang jelas dapat dikategorikan sebagai tindakan melampaui kewenangan anggota legislatif.
2. Pencemaran Nama Baik & Fitnah: Menyeret nama Wakil Gubernur Seno Aji ke dalam narasi hak angket tanpa rincian pelanggaran yang spesifik merupakan bentuk pembunuhan karakter (character assassination) yang dapat dijerat dengan pasal fitnah jika tidak terbukti.
3. Pelanggaran Kode Etik DPRD: Sebagai wakil rakyat, Sarkowi seharusnya mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menjaga stabilitas daerah, bukannya malah menjadi “kompor” yang memicu instabilitas pemerintahan di Kaltim.
Sarkowi Terpojok: Senjata Makan Tuan?
Banyak pengamat menilai strategi Sarkowi ini justru menunjukkan kepanikan di kubu internalnya. Dengan mencoba “menyandera” Wakil Gubernur dalam isu hak angket, Sarkowi seolah-olah mengonfirmasi bahwa ada ketakutan besar di pihaknya jika penyelidikan ini berjalan objektif.
“Ini adalah pernyataan yang sangat ceroboh. Sarkowi ingin menghajar Gerindra, tapi dia lupa bahwa dia sedang merusak tatanan pemerintahan Kaltim secara keseluruhan,” ujar salah satu sumber internal di DPRD yang enggan disebutkan namanya.
Dampak bagi Partai Golkar:
Pernyataan Sarkowi ini diprediksi akan menjadi bumerang bagi Partai Golkar Kaltim. Alih-alih mendapatkan simpati, Sarkowi justru memperlihatkan arogansi politik yang berpotensi memutus hubungan harmonis antar partai koalisi.
Jika Sarkowi tidak segera mengklarifikasi atau meminta maaf, tekanan publik dan potensi pelaporan ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim akan semakin menguat. Publik kini menunggu, apakah “nyali” Sarkowi akan terus bertahan saat gelombang protes dari konstituen dan rekan sejawatnya mulai berdatangan.(TOB)
![]()

