SAMARINDA, indcyber.com – Kepergian Mandala, seorang siswa kelas XI jurusan Pemasaran, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar sekolah. Di balik sosoknya yang dikenal antusias, tersimpan perjuangan panjang melawan sakit dan keterbatasan ekonomi yang baru terungkap sepenuhnya di hari-hari terakhirnya.
Kepedulian yang Terjalin Sejak Awal
Langkah Mandala di sekolah sebenarnya tak pernah lepas dari perhatian pihak pendidik. Sejak duduk di kelas X, wali kelasnya telah memberikan perhatian khusus. Berbagai bantuan mulai dari seragam jurusan, perlengkapan sekolah, hingga sembako rutin disalurkan. Bahkan, saat keluarga Mandala kesulitan membayar uang sewa kontrakan, sekolah hadir memberikan solusi.
Memasuki bulan Ramadan 2026, Mandala menunjukkan semangat tinggi saat mengikuti program Pra-Praktik Kerja Lapangan (Pra-PKL) hasil kerja sama sekolah dengan mitra industri. Ia mengikuti seluruh rangkaian pembekalan sejak Februari hingga Maret dengan penuh antusiasme.
Kronologi Menurunnya Kondisi Kesehatan
Tanda-tanda menurunnya fisik Mandala mulai terlihat pada penghujung Maret 2026.
1 April 2026: Saat masih mengikuti pembelajaran di kelas, seorang guru PKn menyadari wajah Mandala yang pucat pasi dan segera memintanya beristirahat di rumah.
9 – 16 April 2026: Mandala mulai sering izin tidak masuk sekolah karena sakit. Komunikasi hanya dilakukan melalui pesan WhatsApp kepada wali kelas.
10 April 2026: Pihak keluarga sempat meminta bantuan dana sebesar Rp1.100.000 untuk pengobatan non-medis. Meski sekolah memberikan bantuan dari kas masjid, guru-guru sudah menyarankan agar Mandala segera dibawa ke layanan kesehatan medis.
Misteri di Balik Kaki yang Membengkak
Kondisi Mandala kian memprihatinkan pada 20 April 2026 saat ia mengirimkan foto kakinya yang membengkak kepada wali kelas. Merespons hal tersebut, pihak sekolah yang terdiri dari Wali Kelas dan Wakil Kepala Sekolah (Waka) Kesiswaan langsung melakukan kunjungan rumah (home visit) keesokan harinya.
Dalam kunjungan tersebut, ditemukan fakta bahwa Mandala sangat lemah, tangan gemetar, dan sulit berjalan. Upaya sekolah untuk membawa Mandala ke rumah sakit terkendala administrasi BPJS yang tidak aktif akibat tunggakan. Meski sekolah berusaha membantu mengurus reaktivasi, kendala administrasi kependudukan menjadi hambatan baru.
Pada Kamis, 23 April 2026, sekolah kembali berkunjung membawa bantuan uang tunai, susu, dan roti. Saat itulah terungkap sebuah fakta menyedihkan: Mandala ternyata telah lama menahan sakit karena sepatu sekolah yang sudah tidak muat, namun dilarang oleh ibunya untuk mengadu ke sekolah karena prinsip “jangan sampai orang tahu kita kesusahan.”
Kepergian yang Mengejutkan
Niat tulus pihak sekolah untuk membawa Mandala ke Puskesmas dan membelikan sepatu baru pada Jumat pagi tak pernah terwujud. Pada Jumat dini hari, 24 April 2026, Mandala mengembuskan napas terakhirnya.
Mengingat keterbatasan biaya keluarga, pihak sekolah mengambil alih seluruh proses fardu kifayah, mulai dari biaya pemandian, pengafanan, penyediaan ambulans, hingga proses pemakaman. Jenazah Mandala pun disalatkan di sekolah sebagai penghormatan terakhir dari guru dan teman-temannya.
Meluruskan Simpang Siur
Guna menghindari kesalahpahaman di lingkungan masyarakat dan media sosial, pihak sekolah memberikan beberapa poin klarifikasi penting:
1. Bukan karena Sepatu: Tidak ada bukti medis yang menyatakan sepatu sebagai penyebab kematian. Tidak ditemukan luka fisik pada kaki; pembengkakan terjadi pada bagian punggung kaki.
2. Kendala Keterbukaan: Pihak keluarga baru terbuka mengenai kondisi riil dan masalah sepatu pada kunjungan terakhir, sehari sebelum Mandala wafat.
3. Absennya Penanganan Medis: Selama sakit, Mandala tidak pernah diperiksakan ke dokter. Keluarga hanya memberikan penanganan mandiri berupa minyak angin dan suplemen penambah darah berdasarkan asumsi pribadi.
4. Respons Cepat Sekolah: Sekolah menegaskan selalu merespons setiap permintaan bantuan, baik materiil maupun upaya fasilitasi kesehatan.
Kini, Mandala telah tenang. Kisahnya menjadi pengingat tentang pentingnya keterbukaan antara orang tua dan sekolah, serta betapa solidaritas pendidikan mampu melampaui tugas mengajar hingga ke liang lahat.( TOB)
![]()

