Anggota DPRD Kota Samarinda sekaligus Ketua Komisi IV, Mohammad Novan Syahronny Pasie, saat memimpin kegiatan Reses Masa Persidangan III Tahun 2025 di Busam Area, Samarinda Ulu, Minggu (16/7/2025). Kegiatan ini dihadiri para ketua RT dan tokoh masyarakat dari delapan kelurahan untuk menyampaikan aspirasi terkait pembangunan lingkungan.
Indcyber.com, SAMARINDA — Ada suasana yang berbeda ketika seorang wakil rakyat kembali ke daerah pemilihannya. Suasana yang tak ditemukan dalam rapat-rapat panjang di ruang DPRD: lebih akrab, lebih cair, dan sarat kejujuran. Itulah yang terasa ketika Mohammad Novan Syahronny Pasie, Anggota DPRD Kota Samarinda dari Dapil IV Samarinda Ulu, menggelar reses yang mempertemukan dirinya dengan para ketua RT dan tokoh masyarakat dari delapan kelurahan.
Di Busam Area, Jalan Letjen Suprapto, Minggu (16/7/2025), meja-meja yang tersusun rapi menjadi saksi bagaimana warga dan wakil mereka duduk sejajar. Tidak ada podium tinggi atau jarak formal; yang ada hanyalah percakapan tentang kebutuhan lingkungan, harapan pembangunan, dan kekhawatiran yang sering kali tidak sempat tersampaikan di forum resmi.
“Bagi saya, reses itu seperti kembali pulang. Ini momen saya mendengar langsung apa yang dirasakan warga,” ujar Novan membuka pertemuan.
Disatukan di Satu Tempat agar Tak Ada yang Terlewat
Ada alasan tersendiri mengapa reses kali ini dipusatkan di satu lokasi. Novan ingin semua kelurahan merasa punya ruang yang sama. Ia memahami bahwa kehadiran seorang wakil rakyat terkadang memunculkan rasa “lebih diperhatikan” atau “kurang diperhatikan”. Karena itu, ia mengumpulkan semua perwakilan dalam satu forum besar.
“Kalau dibagi-bagi, takutnya ada kecemburuan. Dengan begini, semua bisa bicara, semua merasa didengarkan,” ujarnya.
Para ketua RT tampak saling menyapa, seperti bertemu keluarga besar. Mereka membawa catatan, foto, dan cerita kecil tentang kondisi lingkungannya masing-masing.
Pro-Bebaya: Program yang Dibicarakan Seperti Cerita Sehari-Hari
Di antara dialog yang mengalir, program Pro-Bebaya menjadi salah satu topik yang paling hidup dibicarakan. Program berbasis RT ini, yang memungkinkan lingkungan mengurus kebutuhan kecil secara mandiri, dianggap sebagai “napas baru” bagi banyak kawasan.
Novan menyampaikan bahwa dengan hampir 2.000 RT di Samarinda, program ini sebenarnya menyatukan banyak harapan kecil yang sering terabaikan. “Dana yang masuk itu langsung dirasakan warga. Tidak besar, tapi tepat sasaran,” katanya.

Sejumlah RT mengangguk, sebagian lagi berbagi cerita tentang bagaimana Pro-Bebaya membantu memperbaiki jalan gang, menambah fasilitas ibadah, hingga mendorong kegiatan pemuda.
Masalah Drainase, Rumah Ibadah, dan Kesiapsiagaan Kebakaran Muncul Berulang Kali
Meski suasana santai, aspirasi yang muncul tidak ringan. Sebagian besar RT melaporkan drainase yang tersumbat, gorong-gorong lama yang tak lagi berfungsi, serta perlunya normalisasi saluran air.
Fasilitas masjid dan langgar juga menjadi perhatian, mengingat banyak rumah ibadah yang butuh sentuhan perbaikan ringan maupun besar. Tak ketinggalan, permukiman padat di Samarinda Ulu mendorong warga meminta pelatihan penanganan kebakaran dan pengadaan damkar lingkungan.
Semua aspirasi dicatat teliti. Beberapa ketua RT bahkan membawa proposal lengkap untuk diunggah dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Di Balik Percakapan, Ada Tantangan Anggaran yang Sedang Mengintai
Dalam dialog santai tersebut, Novan juga menyampaikan kondisi fiskal yang saat ini sedang dihadapi Samarinda. Penurunan dana transfer pusat hingga Rp1,2 triliun bukan angka kecil. Ini berarti pemerintah harus lebih selektif dalam menentukan prioritas pembangunan.
Namun ia menegaskan bahwa aspirasi warga tetap akan diperjuangkan. “Usulan tahun ini kita arahkan untuk pembiayaan 2027. Yang penting, semua suara masuk dulu,” katanya.
Meski Tidak Semua Bisa Ditopang Pro-Bebaya, Warga Tetap Punya Harapan
Novan tidak ingin warga terjebak pada ekspektasi yang berlebihan. Ia menjelaskan bahwa Pro-Bebaya memiliki batasan. Beberapa proyek skala besar—seperti drainase besar atau infrastruktur utama—harus masuk melalui mekanisme program pemerintah lainnya.
“Yang penting, kita salurkan melalui pintu yang tepat. Bukan dipaksakan,” ujarnya dengan nada menenangkan.
Ketika Reses Menjadi Ruang Cerita Bersama
Pada akhirnya, reses kali ini meninggalkan kesan lebih dari sekadar pertemuan formal. Ia menjadi ruang bercerita, ruang mendengar, dan ruang saling memahami. Warga merasa dekat, sementara Novan seolah menemukan kembali denyut kehidupan dapilnya sendiri.
Ada harapan yang tumbuh di sela percakapan: bahwa pembangunan tidak hanya soal angka dan proyek, tetapi tentang hubungan manusia antara wakil rakyat dan warga yang saling percaya dan saling menguatkan.
Reporter: Fathur | Editor: Awang
![]()

